Skip to main content

Generasi Milenial dan Kepemilikan Rumah

Nov 04, 2019
5 menit

Kepemilikan rumah tinggal adalah salah satu tujuan keuangan utama bagi keluarga milenial di Indonesia. Data lengkap mengenai kepemilikan rumah dapat diakses secara luas di media massa. Namun, sayangnya masih banyak keluhan dari para keluarga muda megenai kesulitan pembelian rumah tinggal pertama yang diakibatkan oleh beberapa hal. Sebenarnya apa saja yang menghambat kepemilikan rumah tinggal dan bagaimana jalan keluarnya?

Pertama adalah kenaikan harga atas inflasi akan terus terjadi setiap tahun. Kenaikan harga rumah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), fasilitas dan lokasi yang tersedia, serta detil spek rumah. Harga rumah yang semakin melambung, sementara kebutuhan juga semakin tinggi, membuat generasi milenial kesulitan untuk bisa memiliki hunian dalam dalam jangka waktu 10-20 tahun mendatang.

Berikutnya adalah tuntutan kehidupan yang mengarah kepada konsumerisme. Kebutuhan untuk menunjukkan eksistensi menjadi pilhan gaya hidup yang menggerus gaji. Jadi, prioritas alokasi gaji lebih ditujukan kepada pembelian yang bersifat pengalaman dibandingkan pembelian aset tetap.

Terakhir, generasi milenial hidup di jaman naiknya konsep sharing economy. Sejak tahun 2011, Majalah Time mengurutkan “fenomena sharing” sebagai salah satu ide yang merubah cara hidup manusia. Saat ini, betapa banyak pilihan untuk ride-sharing seperti Grab mau pun GoCar, vacation home-sharing seperti Airbnb, lalu pilihan sewa mainan anak, sewa pakaian, hingga pastinya sewa hunian untuk tempat tinggal. Kemudahan ini membuat generasi milenial merubah pola pikir dan mulai meninggalkan konsep pembelian rumah tinggal.

Padahal, kepemilikan properti itu cukup penting dalam perencanaan keuangan rumah tangga karena memberikan fleksibilitas bagi pemilik untuk menghuni mau pun menjadikannya aset investasi. Properti juga merupakan salah satu aset yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ada beberapa pertimbangan sebelum pembelian rumah tinggal.

Hal pertama yang harus diputuskan adalah mau beli tempat tinggal berbentuk rumah atau apartemen. Perbedaan bentuk dan lokasi sebaiknya mengikuti pola gaya hidup dalam rumah tangga. Apabila keluarga gemar kepraktisan, maka opsi apartemen di tengah kota cukup menarik.

Bank dapat membantu untuk memberikan penilaian indikatif atas nilai sebuah properti berdasarkan analisa appraisal. Hal ini sangat penting untuk menentukan harga beli rumah dan legalitas dari properti tersebut. Pahami bahwa ada harga sesuai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak), dan harga pasaran. Jika properti memiliki surat sertifikat Hak Milik, nilainya akan lebih tinggi dari yang hanya bersurat girik.

Bagaimana kemampuan finansial untuk membeli rumah? Opsi KPR ini sering menjadi pilihan masyarakat mengingat harga rumah yang memang tak murah. Jika harus menunggu sampai Anda memiliki dana yang cukup untuk membeli sebuah rumah, rasanya akan lama sekali dananya akan terkumpul karena nilai rumah akan terus naik. Untuk mengambil KPR, Anda sebaiknya memperhatikan dua hal berikut.

Berapa harga rumah yang mampu Anda beli? Indikatornya adalah Anda memiliki dana minimal 20-30% dari harga beli rumah untuk dijadikan uang muka atau down payment (DP). Berapa nilai cicilan KPR yang mampu Anda bayar? Indikatornya adalah Anda memiliki arus kas sebesar minimal 25% dari penghasilan rutin bulanan selama minimal 5 tahun ke depan yang tidak digunakan untuk kebutuhan konsumsi rutin.

Saya pribadi sangat menganjurkan Anda untuk mengambil pinjaman rumah, bilamana dananya tidak cukup untuk membeli tunai. Disiplin menyisihkan penghasilan untuk mengumpukan Down Payment akan sangat berguna sebagai “latihan” kita membayar cicilan KPR. Satu hal yang perlu dicatat, hindari mengumpulkan DP dengan bantuan kredit tanpa agunan. Karena, nantinya cicilan Anda akan berlipat ganda.

Bandingkan plus minus KPR dengan bunga fixed sepanjang masa dengan bunga fixed XX tahun lalu floating. Selagi window shopping, persiapkan legalitas dokumen yang diperlukan seperti Slip Gaji, Sertifikat Tanah (SHM/SHGB/Sarusun), Sertifikat IMB (Izin Mendirikan Bangunan), SPPT PBB, Surat Kuasa Jual, Surat Warisan, dan lain-lain. Pihak bank akan memberikan keputusan tentang kelayakan properti untuk proses akad kredit, seandainya semua dokumen yang diperlukan telah dilengkapi.

  1. Menentukan Bentuk Rumah dan Lokasi
  2. Menentukan Harga Pasaran
  3. Menentukan Kemampuan Finansial
  4. Kumpulkan Uang untuk Beli Tunai atau Down Payment
  5. Window Shopping KPR

Live a Beautiful Life!

Oleh: Prita Ghozie dari ZAP Finance

Fasilitas yang menghubungkan rekening simpanan Anda sekeluarga dengan KPR

PermataKPR Keluarga

Fasilitas KPR dengan cicilan tetap yang memudahkan pengaturan keuangan

PermataKPR Cicilan Tetap

Aspirasi Untuk Kamu

01 OCT 2019 | KONVENSIONAL ASPIRASI MASA DEPAN

Melakukan Perencanaan Keuangan Masa Depan

...

Kebijakan Privasi

...

Syarat dan Ketentuan