Cara Jitu Memaksimalkan Nilai Aset Anda dengan Menabung Lewat KPR

Cara Jitu Memaksimalkan Nilai Aset Anda dengan Menabung Lewat KPR

  • KPR 2

    Cara Jitu Memaksimalkan Nilai Aset Anda denganMenabung Lewat KPR


    Industri properti di Indonesia memiliki karakteristik yang cenderung berbeda dari negara lain. Kenaikan nilai properti dari tahun ke tahun adalah hal yang pasti terjadi, tinggal seberapa tinggi kenaikan itu. Yang pasti, 10% hingga 15% adalah tingkat kenaikan nilai yang niscaya bagi para pemilik properti, khususnya bagi para pengguna atau end user. Sementara bagi investor properti, mereka mengincar produk properti yang memberikan prospek kenaikan nilai yang lebih tinggi, di atas 15% hingga mencapai 35% per tahun.

    Pilihan untuk menggunakan sumber pembiayaan dari bank dalam bentuk kredit pemilikan rumah (KPR), adalah salah satu alternatif utama bagi pembeli properti yang memiliki keterbatasan finansial. Para pembeli properti kategori end user pun menjadikan KPR sebagai pilihan pembiayaan yang utama, jika tidak sanggup membayar secara tunai. Hal yang berbeda kerap dijumpai pada investor properti dari kalangan menengah atas, dengan kemampuan finansial yang lebih baik, namun tetap mengincar margin dari investasi mereka.

    “Kalangan ini mau investasi di properti tetapi mereka enggan untuk mempunyai hutang. Nah, kepada mereka ini saya berusaha untuk meyakinkan mereka bahwa Anda bisa berinvestasi di properti dengan berhutang, menggunakan KPR. Sepanjang kamu bisa mengaturnya, itu lebih menguntungkan,” ujar Dewi Damajanti Widjaja, Senior Vice President Mortgage Permata Bank.

    Nasabah yang coba diyakinkan oleh Dewi adalah mereka yang memiliki nilai tabungan tinggi di bank. Jika pola membeli properti secara tunai ini tidak diarahkan kepada KPR, maka pada masa-masa tertentu dana tabungan mereka akan tersedot dalam jumlah yang signifikan untuk membeli properti. Padahal, bank memiliki kepentingan agar simpanan nasabah di bank pun tetap terjaga.

    “Misalnya ada nasabah yang mau beli properti, dan dia juga punya simpanan di bank sebesar Rp500 juta. Saya jelaskan kepadanya tentang inflasi, BI Rate, bunga tabungan, bunga deposito dan lainnya. Nah, kalau Rp500 juta ini hanya ditabung saja, maka dalam 10 tahun ke depan, nilai yang dia terima hanya sekian. Saya kasih opsi, kalau Rp500 juta ini ditarik semua untuk dibelikan properti secara tunai, maka 10 tahun lagi akan jadi seperti apa. Kalau Rp500 juta ini, Rp200 juta dia simpan sebagai deposito, lalu dia buka KPR dengan uang muka  Rp300 juta dan setiap bulan dia dituntut harus menabung berapa lagi, 10 tahun kemudian jadi berapa nilai total asetnya?,” ujar Dewi.

    Dari ketiga ilustrasi yang dipaparkan Dewi, keuntungan tertinggi yang dapat diperoleh nasabah dalam kurun waktu 10 tahun ke depan adalah dengan mengkombinasikan produk deposito dan KPR. Dari kombinasi ini, lanjut Dewi, nasabah tetap memiliki simpanan di bank yang terus mengakumulasi bunga, hutang dalam bentuk KPR pun terus dikelola oleh si nasabah dengan baik dan menjadi tabungan aset yang nilainya akan meningkat secara signifikan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

    Masuk akal, apa yang disampaikan oleh Dewi. Jika kita asumsikan saja, dengan motif investasi maka properti yang dipilih adalah yang memberikan kenaikan nilai tertinggi, katakanlah  rata-rata 30% per tahun, maka dalam 10 tahun berikutnya, nilai properti itu akan meningkat 300% dari harga saat dibeli. Jika dikalkulasikan dengan bunga KPR yang harus dibayarkan pun, nasabah masih tetap meraup keuntungan yang jauh lebih tinggi. Belum lagi ditambah dengan kenaikan nilai  depositonya selama 10 tahun itu.

      “Simulasi yang saya berikan kepada nasabah ini sudah memperhitungkan dengan suku bunga KPR yang floating sehingga bagaimanapun itu, kombinasi ini tetap lebih menguntungkan. Jadi, kalau bisa menggunakan KPR untuk membeli rumah, kenapa harus menghabiskan uang tabungan untuk membeli secara tunai?,” ungkapnya lagi.

    Sumber : rumah123.com


    <-- Kembali Ke Halaman KPR

PermataTel

1500111 (fixed line/ponsel)

Hubungi Kami